AL-QUR’AN
Definisi Qur’an :
1.
Menurut bahasa Qur’an adalah
bacaan
2. Menurut resminya/ istilah
adalah redaksi Illahi atau pembicaraan Allah yang diturunkan kepada rasul-NYA
Muhammad saw yang isinya terdiri dari ayat-ayat dan ajaran yang bijaksana
(berbentuk kata-kata, tulisan yang terhimpun
diantara dua jiid (kulit) mushaf.
3.
Menurut Syariat adalah
petunjuk untuk manusia dan penjelas dari petunujuk dan pembeda, (2/185) itulah
bentuk Hudan yang kongkrit.
a.
maka Hudan adalah gambaran
huruf-huruf yang berlafaz mempunyai ma’na yang luas/ dalam dan dia terkumpul
diantara dua kulit mushaf.
b. sedangkan Bayinat adalah :
yang dalam bentuk kenyataan (kongkrit) itulah tanda-tanda yang nyata di alam
ini.
c. dan Furqon adalah yang
memisahkan diantara dua yang berlainan/berlawanan sebagai kesimpulan ma’na
Hudan dan Bayinat (membedakan antara kesimpulan ma’na Hudan dan Bayinnat disatu
pihak dengan lainnya dilain pihak).
Maka Qur’an dengan rumus tiga (Hudan, Bayinat, Furqon) sebagai mana yang dijelaskan Allah
:QS. 29/48-49 dan Allah misalkan dengan
pohon yang baik (akar, batang, buah), dalam QS. 14/24-25.
Maka di dalam
perumpamaan khusus ini telah panjang lebar, maka marilah kita perhatikan bacaan
tentang Prinsip Tiga , ini penting!
Karena Prinsip Tiga itu sebagai kebenaran (yang Haq), yang demikian itu.
Al-Ashlu (akar) sebagai Hudan
Al-Far’u (batang) sebagai Bayyinah
Al-Ukul (buah) sebagai Furqon
ini adalah rumus Prinsip Tiga
Qur’an yang sebenarnya
itu adalah wahyu Illahi yang tidak bersuara dan tidak berhuruf, tetapi dia ayat
yang nyata/kongkrit yang berakar (Al-Ashlu) dan tersimpan di dalam dada
orang-orang yang di beri ilmu sebagaimana di jelaskan Allah SWT.
Untuk rumus Qur’an yang Tiga tersebut ada bacaan-bacaan yang berbeda
yang di khususkan antara satu dan yang lainnya.
1.
Maka bacaan ‘HUDAN’ adalah
dengan ‘TADABARUN’ (meneliti) lihat QS. 47/24.
2.
Bacaan BAYYINAH adalah dengan ‘TAFAKARUN’
(diffikir/analisa) lihat QS 3/191.
3.
Bacaan ‘FURQON’ adalah dengan
‘TABAYUN’ (penegasan/kongkrit/tegasin) lihat QS. 49/6.
Dan perintah baca yang pertama-tama diturunkan kepada
hamba-NYA Muhammad SAW (iqra) yaitu bacaan bayinah (huruf kasar) akan tetapi tidak
menjadi petunjuk karena belum diturunkan
secara sempurna kecuali yang asli (awal
dari yang pertama kali), yaitu ayat al-alaq sebagaimana telah kita bicarakan
dan pada saat itu terpeliharalah di dalam dadanya.
Kemudian
bacaan Qur’an dengan cara-caranya yang tiga tersebut : (Tadabur, Tafakur,
Tabayun) mesti menjadikan ; sebagaimana Firman Allah QS. 75/16-19, yakni jangan
tergesa-gesa dalam membacanya. Dan cara membacnya ikutilah cara bacaan Allah,
kemudian Allah memperkuat dengan Firman-NYA QS. 20/114. 7/106. Demikianlah cara membaca Qur’an disisi
Allah. Jadi kalau kita mau membaca Qur’an ikutilah bacaan sebagai mana Muhammad saw membacanya karena cara bacaan
Muhammad adalah cara bacaan Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar